AS Ajak G20 Lawan Produksi Baja Berlebih, Tiongkok di Luar Kesepakatan

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer difoto pada hari pertama Konferensi Tingkat Menteri Perdagangan G20 di Milwaukee, Wisconsin, pada 30 September 2026. (Foto oleh KAMIL KRZACZYNSKI / AFP) US Trade Representative Jamieson Greer is photographed during the first day of the G20 Trade Ministerial Conference in Milwaukee, Wisconsin on September 30, 2026. (Photo by KAMIL KRZACZYNSKI / AFP)

Amerika Serikat (AS) secara resmi mengajak negara-negara anggota G20 untuk mengambil tindakan tegas dalam mengatasi isu produksi baja berlebih di pasar global. Langkah ini disampaikan oleh Perwakilan Dagang AS (USTR), Katherine Tai, di sela-sela pertemuan G20 di Milwaukee pada Rabu (30/9). Washington menilai kelebihan kapasitas industri ini telah menciptakan tekanan harga yang tidak adil dan merusak ekosistem perdagangan internasional.

Upaya Menjaga Stabilitas Harga Baja Global

Katherine Tai menekankan bahwa produksi baja berlebih menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan industri manufaktur di berbagai negara. Menurutnya, kapasitas produksi yang melampaui permintaan pasar sering kali dipicu oleh kebijakan subsidi non-pasar yang mendistorsi kompetisi secara global.

AS mendorong anggota G20 untuk menyepakati standar bersama dalam memantau kapasitas industri. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap negara anggota beroperasi dalam kerangka ekonomi yang adil tanpa membanjiri pasar dengan produk murah yang merugikan produsen lokal di negara lain.

Tiongkok Berada di Luar Kesepakatan

Dalam dorongan diplomatik ini, Amerika Serikat secara spesifik mengatur langkah tanpa melibatkan Tiongkok dalam kesepakatan utama tersebut. Washington memandang bahwa kebijakan industri Beijing selama ini menjadi faktor utama di balik fenomena produksi baja berlebih yang sulit dikendalikan oleh mekanisme pasar biasa.

Meskipun Tiongkok merupakan salah satu produsen baja terbesar di dunia, AS memilih untuk memperkuat aliansi dengan negara-negara yang memiliki kesamaan visi dalam standar perdagangan. Hal ini dilakukan untuk menciptakan tekanan kolektif terhadap praktik perdagangan yang dianggap tidak transparan dan merugikan ekonomi global.

Dampak Kelebihan Kapasitas terhadap Perdagangan

Kelebihan pasokan baja di pasar internasional membawa dampak berantai bagi stabilitas ekonomi. Beberapa poin utama yang menjadi perhatian serius AS dalam pertemuan G20 meliputi:

  • Penurunan harga baja secara drastis yang mengancam profitabilitas perusahaan baja domestik di berbagai negara.
  • Potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor manufaktur akibat ketidakmampuan bersaing dengan produk impor murah.
  • Distorsi rantai pasok global yang sangat bergantung pada negara produsen dengan kapasitas berlebih.
  • Ketidakseimbangan neraca perdagangan bagi negara-negara berkembang yang menjadi target pasar pembuangan stok baja.

Komitmen AS dalam Forum G20

Melalui forum G20, Amerika Serikat berharap dapat membangun konsensus yang lebih luas untuk menghadapi tantangan ekonomi ini. Katherine Tai menyatakan bahwa kerja sama multilateral sangat krusial agar masalah produksi baja berlebih tidak terus berulang dan merugikan para pekerja di seluruh dunia.

Pemerintah AS berkomitmen untuk terus menggunakan instrumen perdagangan yang tersedia guna melindungi industri dalam negerinya dari praktik perdagangan yang tidak adil. Fokus utama saat ini adalah memastikan bahwa pertumbuhan industri baja berjalan selaras dengan permintaan riil pasar dunia guna menjaga keberlanjutan ekonomi jangka panjang.

Demikian informasi terkini mengenai upaya global dalam menyeimbangkan pasar industri baja dunia. Simak terus perkembangan berita ekonomi dan internasional lainnya hanya di portal berita terpercaya kami di www.berisikebaikan.com.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *