Tingkat keterpilihan Presiden Prabowo Subianto anjlok hingga 9,8 persen menurut data pengamat politik. Kebijakan ekonomi dan tata kelola program menjadi fokus utama penilaian masyarakat.
umkmsukses.com – 18-10-2026 — Angka 9,8 persen menjadi sorotan setelah laporan terbaru menunjukkan penurunan tajam pada elektabilitas Presiden Prabowo Subianto. Data ini disampaikan oleh Jamiluddin Ritonga, pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul pada Sabtu (17/10/2026), sebagai refleksi dari akumulasi tekanan masyarakat terhadap jalannya pemerintahan.
Analisis menunjukkan bahwa penurunan tersebut bersumber dari lima faktor mendasar yang saling memengaruhi, dengan sorotan utama tertuju pada kondisi ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat luas dalam kehidupan sehari-hari.
Pemicu Utama Penurunan Elektabilitas
Berikut adalah lima faktor yang dinilai memicu penurunan elektabilitas Prabowo Subianto:
- Tekanan ekonomi masyarakat: Publik merasa daya beli melemah dan situasi ekonomi sehari-hari belum sesuai dengan ekspektasi.
- Kinerja program prioritas: Adanya kritik terhadap efektivitas dan tata kelola program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.
- Respons terhadap kritik: Adanya sentimen negatif terkait cara pemerintah menangani isu politik, termasuk respons terhadap kelompok kritis dan aktivis.
- Penegakan hukum dan korupsi: Penurunan penilaian publik terhadap sektor hukum akibat dinamika kasus korupsi dan keterlibatan pejabat.
- Dinamika kepercayaan demokrasi: Penurunan kepuasan publik terhadap jalannya demokrasi yang berdampak pada penilaian stabilitas nasional.
Dampak Tekanan Ekonomi Terhadap Kepercayaan
Jamiluddin menyoroti bahwa faktor pertama dan yang paling krusial adalah kondisi finansial warga. Menurut Jamiluddin, “Pertama, tekanan kondisi ekonomi masyarakat. Penilaian negatif terhadap kondisi ekonomi menjadi pemicu utama turunnya elektabilitas Prabowo. Publik merasa daya beli melemah dan situasi ekonomi sehari-hari belum sesuai harapan.”. Kondisi ini menjadi beban utama yang dirasakan langsung oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Tanggapan Masyarakat Soal Program Prioritas
Selain persoalan ekonomi, program-program strategis pemerintah juga mendapat sorotan tajam. Jamiluddin menyatakan, “Dua, kinerja program prioritas. Kritik tajam terhadap pelaksanaan program unggulan pemerintah, seperti pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Kepercayaan publik terhadap efektivitas dan tata kelola program tersebut berdampak terhadap elektabilitas Prabowo.”. Kepercayaan publik terhadap tata kelola ini menjadi penentu penting dalam penilaian elektabilitas.
Dinamika Penegakan Hukum dan Stabilitas Demokrasi
Dinamika penegakan hukum turut memberikan kontribusi pada persepsi publik. Jamiluddin menambahkan, “Persoalan penegakan hukum dan korupsi. Penilaian publik terhadap sektor hukum cenderung menurun. Hal ini dipengaruhi oleh sorotan pada beberapa kasus korupsi serta dinamika hukum yang melibatkan pejabat atau mantan pejabat penegak hukum, seperti kasus eks Jampidsus Febrie Adriansyah.”. Selain itu, ia juga menekankan adanya sentimen negatif terkait bagaimana pemerintah menyikapi suara kritis, yang diungkapkan sebagai: “Tiga, isu politik dan penanganan kritik. Suka tidak suka memang terdapat sentimen negatif publik terkait isu politik, termasuk respons pemerintah terhadap kelompok kritis serta kasus yang melibatkan aktivis.”.
Terakhir, penurunan kepuasan terhadap jalannya demokrasi menjadi faktor kelima yang memengaruhi stabilitas penilaian masyarakat terhadap arah politik nasional di bawah pemerintahan saat ini.
Data ini menjadi catatan bagi pemerintah dalam mengevaluasi efektivitas kebijakan yang sedang dijalankan. Pihak otoritas terkait diharapkan dapat menindaklanjuti keresahan publik ini demi perbaikan tata kelola di masa mendatang.
Sumber: Tribun News

Comments